HARI PAHLAWAN DIPERINGATI, NAMUN PAHLAWAN ENTAH KAPAN DI TELADANI

HARI PAHLAWAN DIPERINGATI, NAMUN PAHLAWAN ENTAH KAPAN DI TELADANI

By : M. Hafizh Alhijri Chaniago (Ketua DKP KAMMI MEDAN)

            Baru saja ku buka media sosial Whats apps ku, ketika bangun tidur tepat di pagi hari pukul 04.00 di tanggal 10 November 2017. Aku melihat begitu banyak ucapan hari Selamat Hari Pahlawan, baik dari organisasi maupun mereka yang “katanya” tokoh masyarakat, melalui poster-poster indah editan photoshop dan narasi yang sedikit terkesan dibesar-besarkan, namun itulah Indonesia, negeri dengan berbagai peringatan dan perayaan, namun entah sampai kapan Indonesia  menjadi raya.

Ramainya ucapan Selamat Hari Pahlawan tersebut hampir terjadi dimomentum tahunan 10 November, namun sejak 10 November dijadikan momentum Hari Pahlawan, sampai saat ini cita-cita para pahlawan pendiri bangsa terhadap bangsa ini tak kunjung terealisasikan. Kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, menjelang Hari Pahlawan disaat itu pula Bapak Presiden RI Jokowi menghelat pesta akbar yang seolah-olah menjilat ludah beliau sendiri, dimana beliau pernah mengeluarkan kebijakan bahwa pesta pejabat harus sederhana dengan maksimal 400 undangan sebagai manifestasi revolusi mental, namun disisi lain beliau sebagai pencetus kebijakan beliau pula yang secara terang-terangan menunjukkan kepada masyarakat sebuah Royal Wedding pejabat ditengah daya beli masyarakat yang kian menurun, disisi lain menjelang 10 November ini juga dipertontonkan dagelan hukum dan politik antara KPK, Setya Novanto dan Presiden, dimana seorang Setnov bak belut terlicin dunia mampu lolos dari jeratan hukum KPK, padahal ketika KPK sudah menetapkan individu menjadi tersangka maka untuk lepas dari jeratan tersebut hampir mustahil namun justru ada sebuah Power of Setnov, yang membuat Setnov mampu lepas dari jeratan hukum tersebut, bahkan Setnov memberi shock terapi kepada ketua KPK Agus Raharjo dan Saut Situmorang dengan penetapan tersangka dengan tuduhan pembuatan surat palsu dan penyalahgunaan wewenang, tidak hanya itu bahkan ketika beliau akan dilakukan penyidikan Setnov justru berkata “penyidikan terhadapnya hanya dilakukan atas perintah presiden”, begitu ironi di momentum tahunan peringatan 10 November 2017 ini justru masih ditampilkan betapa bobroknya sistem hukum Indonesia karena begitu mudahnya di kangkaki oleh para mafia-mafia politik dan elit-elit kekuasaan.

Padahal dahulu negeri ini dibangun oleh para Pahlawan dengan air mata  dan darah bahkan juga jiwa, namun penerus dan elit-elit bangsa ini justru mengkhianati cita-cita kebangsaan dengan karakter hipokrit dan menelanjangi hukum dengan kekuasaan, seandainya para pahlawan-pahlawan yang terkubur di liang-liang tanah Indonesia ini bangkit kembali maka mereka pasti akan “menusuk-nusuk” para elit-elit bangsa dengan bambu runcing yang dulu digunakan untuk membasmi penjajah karena para elit-elit bangsa saat ini telah menjadi penghianat bangsa dengan bertransformasi menjadi politisi-politisi busuk dan penjual kedaulatan bangsa. Maka sudahkah ramainya ucapan Hari Pahlawan mencerminkan semangat kepahlawan dan perubahan untuk Indonesia tercinta ini? Jika ucapan hari kepahlawanan hanya sebatas ucapan dilisan tanpa makna, hanya sebagai peringatan seremonial belaka, maka Indonesia tidak butuh itu KAWAN!!!

Kepahlawanan para tokoh bangsa yang telah berjuang di masa lalu dengan seluruh jiwa raga mereka demi satu tujuan dan satu teriakan yaitu MERDEKA, tidak hanya sebatas untuk dikagumi, namun harus DITELADANI. Mereka tidak butuh dikultuskan namun terhadap cita-cita mereka kita lakukan pengkhianatan. Mereka juga tidak butuh ditaburi bunga di makam-makamnya, jika kita sebagai anak bangsa dan pemimpin bangsa justru menyiapkan makam untuk rakyat lainnya dengan kebijakan-kebijakan yang salah lagi tak berguna. Mereka tidak butuh upacara-upacara seremonial belaka, jika ternyata para peserta upacaranya merupakan mafia penjual bangsa. Mereka tidak butuh tangisan-tangisan sedih ketika hening cipta, namun para penangisnya merupakan antek asing yang membuat Indonesia diperkosa sumber daya alamnya.

Namun para pahlawan bangsa ini butuh para putra-putri ibu pertiwi yang menjunjung tinggi supremasi hukum baik ketika berkuasa ataupun tak berdaya. Pahlawan bangsa ini butuh putra-putri ibu pertiwi yang menjadi intelektual profetik yang produktif dan berdaya guna bukan menjadi kadal lagi mafia pendidikan yang mengkomersialisasi dunia pendidikan. Pahlawan bangsa ini butuh dokter-dokter yang rela berkorban dalam berjuang demi Indonesia yang sehat bukan dokter-dokter yang membuat pasien semakin lama kesakitan serta menunggu menuju kematian, Pahlawan bangsa ini butuh guru-guru yang ikhlas mengajar, memberikan ilmu terbaiknya dan menjadi teladan bagi putra-putri Indonesia, bukan guru-guru alai yang mengajar tidak dengan hati namun hanya bermodal mulut yang dipoles lipstik agar terlihat sexi dan sangat gampang mengkasari murid-murid yang seharusnya di ayomi. Pahlawan bangsa ini butuh para anak muda dan mahasiswa yang sadar akan perannya sebagai pelanjut estafet kepemimpinan yang senantiasa belajar dan mengembangkan diri demi kemajuan Indonesia, bukan anak muda yang baperan ketika diputus pacar seolah-olah dunianya sedang menuju kematian, yang lebih sering bermain dipojok jalan dibanding perpustakaan, yang rutin selfie tapi entah kapan mau memperbaiki diri, yang gagahan merokok seolah jantan padahal impotensi menanti. Pahlawan kita butuh penerus seperti itu semua kawan!!!

Maka momentum 10 November ini seharusnya menjadi momentum untuk menyingsingkan lengan, menghancurkan kemunafikan, membumi hanguskan kebatilan, dan bekerja demi peradaban Indonesia yang raya, berkeadilan dan berkesejahteraan. Selamat Hari Pahlawan Seumur Hidup untuk Bung Karno, Bung Hatta, Pak Natsir, seluruh pahlawan yang dikenal dan terkhusus pahlawan-pahlawan yang tak dikenal karena sebenarnya jasa mereka yang terbesar bagi lahirnya sebuah peradaban Indonesia. Serta tak lupa SELAMAT HARI PAHLAWAN untuk calon-calon pahlawan yang kini sedang mempersiapkan diri dalam sepi dan keheningan kerja-kerja nyata. Semoga kelak kita berjumpa dalam Indonesia yang lebih berketuhanan, berkemanusiaan, memiliki persatuan, yang menjunjungi tinggi musyawarah sebagai kebutuhan, yang negeri penuh dengan keadilan. Semoga!!!