Kammi Medan Mengadakan Diskusi “Biaya Kuliah Melejit, Mahasiswa Menjerit”

16 juli 2017 di markas besar pergerakan mahasiswa kota Medan sekretariat KAMMI MEDAN,  KAMMI MEDAN mengadakan diskusi rutin dengan tema “Biaya Kuliah Melejit Rakyat Menjerit”.
Diskusi yang langsung di moderatori oleh ketua DKP KAMMI MEDAN saudara M.  Hafizh Alhijri Chaniago  memiliki tujuan untuk menyadarkan kader KAMMI  se-kota Medan dan Alumni KAMMI Se-Kota Medan bahwa tugas kammi sebagai pergerakan besar tidak pernah selesai sebagai tameng besar bagi mahasiswa.

Diskusi yang dihadiri kurang lebih 35 orang mahasiswa dan Alumni KAMMI yang bergerak di bidang pendidikan berjalan cukup hangat  , dimulai dengan pengantar dari moderator yang mengatakan bahwa biaya kuliah saat ini semakin tinggi, kampus-kampus saat ini berlomba-lomba menaikan biaya kuliahnya agar semakin tinggi dengan dalih pelaksanaan UU PT NO. 12 THN 2012, padahal kondisi realita tersebut menyebabkan jangkauan pendidikan semakin sempit,  walaupun sudah ada berbagai program beasiswa karena dasarnya program beasiswa tersebut pun memiliki berbagai kendala,mulai dari sistem seleksi yang tidak akuntable, dan kuotanya yang sedikit dimana sangat bertentangan dengan amanat pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga pendidikan tinggi menjadi sarana revolusioner untuk mencerahkan masyarakat kelas bawah tidak berjalan semestinya, karena kampus-kampus bahkan kampus negeri saat ini sudah berorientasi kepada komersialisasi, kapitalisasi dan neoliberisasi pendidikan.

Hal senada juga disampaikan oleh peserta diskusi yang berasal dari ITM, UIN, dan UISU. Saudara Pengadilan Dalimunthe (Itm), Saudara Fahmi(UIN),  Saudara Apri Dalimunthe (UISU),  mereka juga mengatakan bahwa biaya kuliah saat ini semakin drastis kenaikannya dari tahun ke tahun namun disisi lain kualitas pendidikan bergerak stagnan justru semakin menurun,  dimulai dari dosen yang tak bertanggung jawab yang hadir sesuka-suka hatinya,  alat laboratorium yang hampir rusak semua,  proyektor dikelas yang sering tidak ada. Sehingga mereka menanyakan uang kuliah yang tinggi tersebut larinya kemana? 
Hitung-hitungan kasar dari mereka mengatakan kampus-kampus tersebut bisa mendapatkan uang puluhan miliar sampai ratusan miliar selama setahun hanya dari uang kuliah,  padahal uang begitu banyak tersebut sangat mampu untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Dalam diskusi tersebut moderator menyampaikan salah satu lembaga kemahasiswaan yang sebenarnya mampu menjadi kekuatan ekonomi mahasiswa untuk menanggulangi permasalahan ekonomi mahasiswa yaitu koperasi mahasiswa,  namun beliau juga mengatakan koperasi mahasiswa sebenarnya sangat berpotensi untuk mensejahterakan mahasiswa namun sayangnya pengelolaan koperasi mahasiswa di rata-rata kampus Sumatera Utara tidak akuntable dan terkesan milik golongan sendiri bukan menjadi milik mahasiswa.

Di akhir diskusi para peserta diskusi mengatakan bahwa juga perlu ada peninjauan kembali kepada UU PT NO. 12 TAHUN 2012 yang jelas-jelas berjiwa neoliberasi dan komersialisasi dunia pendidikan tinggi, karena segala kebrobrokan dunia pendidikan tinggi saat ini itu salah satunya dilegitimasi oleh regulasi yang jelas-jelas jauh dari prinsip keadilan dan terkesan menzhalimi dan seluruh elemen pergerakan mahasiswa saat ini harus peka dan empati jika memang gerakan mahasiswa itu masih ada,  sebelum gerakan mahasiswa itu hanya tinggal nama dan institusinya menjadi berhala-berhala.