Konflik Palestine: Konflik Kemanusiaan

Saya tidak tahu apakah ada kosakata dalam bahasa Indonesia yang mampu untuk menggambarkan kekesalan saya ini, kegeraman saya yang membuncah terhadap tindakan tentara zionisme Israel kepada rakyat sipil Palestina. Saya pikir seekor anjing pun tidak akan pernah mengganggu tuannya yang sedang beribadah, apalagi menendangnya. Tapi tampaknya hal itu berlaku di negara jajahan Israel, Palestina, dimana seorang lelaki ditendang hingga terpental dari sajadahnya. Biadab! Tidak cukup dengan itu, Israel la’natullah ‘alaih kebali berulah dengan memasang detektor logam di sekitar Masjidil Aqsha, sehingga menyulitkan umat muslim untuk beribadah disana. Alasan Israel melakukan hal itu ialah untuk menghindari penyelundupan senjata yang dilakukan Palestina ke dalam Masjidil ‘Aqsha. Saya pikir ini merupakan alasan yang terlalu dibuat-buat dan dicari-cari. Saya pikir detektor logam itu hanya sebagai alibi untuk menangkapi ‘orang-orang Palestina’ yang tidak Israel sukai dan membuat mereka babak belur hingga mati.

Padahal, masjid tersebut adalah masjid yang sakral nan mulia bagi kami umat Islam untuk beribadah. Selain daripada merupakan kiblat pertama kami ketika melaksanakan shalat, sebelum adanya perintah untuk menghadap ke Masjidil Haram, Mekkah. Bahkan termasuk sebagai tempat yang mulia bagi orang ‘Yahudi’. Hingga wajar saja menurut saya, jika kemudian hari Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas muntab sekaligus geram, dan menghentikan hubungan diplomatik dan komunikasi dalam bentuk apapun dengan Israel. Pertanyaan saya, ‘Apakah hal tersebut benar-benar bisa untuk dilakukan?’. Padahal, sampai dengan saat ini, Palestina sebagai sebuah negara otoritas dibawah pengawasn PBB masih sangat bergantung dengan Israel, seperti kebutuhan air bersih untuk hidup dan juga listrik, sedangkan untuk makanan dan obat-obatan Palestina masih sangat membutuhkan bantuan kemanusian dari luar negaranya. Itupun lebih sering sebagai barang selundupan ditengah ketatnya pengawasan dan penjagaan tentara Israel jahannam.

Dari sinilah saya memahami, bahwa konflik Israel-Palestina bukanlah konflik agama antara Islam vs Barat. Saya pikir konflik ini lebih menjurus kepada konflik kemanusiaan, yang diawali oleh keserakahan atas pencaplokan tanah Palestina oleh Yahudi Israel yang berpahamkan Zionisme. Saya meyakini ada banyak aliran Yahudi lainnya semacam Yahudi Ortodox yang mengecam pencaplokan tanah ini, apalagi melalui jalan kekerasan dan pertumpahan darah. Oleh karena itu, menurut saya, konflik ini jangan hanya menjadi pelecut bagi muslim dunia untuk bersuara, tapi juga oleh seluruh umat beragama di dunia ini demi tegaknya kemanusiaan. Membantu dan membangun lagi Palestina. Lagipun ada banyak juga warga non-muslim disana. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, “Tak perlu menjadi muslim untuk membela palestina, cukup kau jadi manusia!”

Saya pikir Zionisme sebagai paham radikal yang ada dalam tubuh agama Yahudi harus benar-benar dimusnahkan dari muka bumi ini. Lewat teman, saya baru mengetahui bahwa Zionisme pertama kali dideklarasikan oleh Theodore Herzl, seorang wartawan yang akhirnya menjadi Bapak pendiri Israel Raya. Dalam Protocol of Zionisme, seluruh penganutnya dituntut untuk menguasai 12 poin, beberapa diantaranya seperti media, bank, politik, ekonomi dan lobi dunia. Dan mereka telah berhasil memiliki semua itu.

Akibat bentrokan yang terjadi itu Palestina pun kembali mendapatkan perhatian internasional. Bukan sebagai sebuah negara yang benar-benar merdeka, melainkan sebagai sebuah negara, dimana rakyatnya bahkan kesulitan untuk beribadah. Saya pikir inilah penjajahan yang disebut-sebut tidak sesuai dengan prikemanusiaan, dan sekaligus menginjak-injak harga diri muslim dunia! Akibat kebijakan ‘Penghinaan terhadap Islam’ itu Israel dan Palestina pun saling bunuh-membunuh dan tikam-menikam. Sedikitnya ada tiga pihak warga sipil Palestina dan tiga warga Israel yang menjadi korban, sedangkan ratusan Saya tidak tahu apakah ada kosakata dalam bahasa Indonesia yang mampu untuk menggambarkan kekesalan saya ini, kegeraman saya yang membuncah terhadap tindakan tentara zionisme Israel kepada rakyat sipil Palestina. Saya pikir seekor anjing pun tidak akan pernah mengganggu tuannya yang sedang beribadah, apalagi menendangnya. Tapi tampaknya hal itu berlaku di negara jajahan Israel, Palestina, dimana seorang lelaki ditendang hingga terpental dari sajadahnya. Biadab! Tidak cukup dengan itu, Israel la’natullah ‘alaih kebali berulah dengan memasang detektor logam di sekitar Masjidil Aqsha, sehingga menyulitkan umat muslim untuk beribadah disana. Alasan Israel melakukan hal itu ialah untuk menghindari penyelundupan senjata yang dilakukan Palestina ke dalam Masjidil ‘Aqsha. Saya pikir ini merupakan alasan yang terlalu dibuat-buat dan dicari-cari. Saya pikir detektor logam itu hanya sebagai alibi untuk menangkapi ‘orang-orang Palestina’ yang tidak Israel sukai dan membuat mereka babak belur hingga mati.

Padahal, masjid tersebut adalah masjid yang sakral nan mulia bagi kami umat Islam untuk beribadah. Selain daripada merupakan kiblat pertama kami ketika melaksanakan shalat, sebelum adanya perintah untuk menghadap ke Masjidil Haram, Mekkah. Bahkan termasuk sebagai tempat yang mulia bagi orang ‘Yahudi’. Hingga wajar saja menurut saya, jika kemudian hari Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas muntab sekaligus geram, dan menghentikan hubungan diplomatik dan komunikasi dalam bentuk apapun dengan Israel. Pertanyaan saya, ‘Apakah hal tersebut benar-benar bisa untuk dilakukan?’. Padahal, sampai dengan saat ini, Palestina sebagai sebuah negara otoritas dibawah pengawasn PBB masih sangat bergantung dengan Israel, seperti kebutuhan air bersih untuk hidup dan juga listrik, sedangkan untuk makanan dan obat-obatan Palestina masih sangat membutuhkan bantuan kemanusian dari luar negaranya. Itupun lebih sering sebagai barang selundupan ditengah ketatnya pengawasan dan penjagaan tentara Israel jahannam.

Dari sinilah saya memahami, bahwa konflik Israel-Palestina bukanlah konflik agama antara Islam vs Barat. Saya pikir konflik ini lebih menjurus kepada konflik kemanusiaan, yang diawali oleh keserakahan atas pencaplokan tanah Palestina oleh Yahudi Israel yang berpahamkan Zionisme. Saya meyakini ada banyak aliran Yahudi lainnya semacam Yahudi Ortodox yang mengecam pencaplokan tanah ini, apalagi melalui jalan kekerasan dan pertumpahan darah. Oleh karena itu, menurut saya, konflik ini jangan hanya menjadi pelecut bagi muslim dunia untuk bersuara, tapi juga oleh seluruh umat beragama di dunia ini demi tegaknya kemanusiaan. Membantu dan membangun lagi Palestina. Lagipun ada banyak juga warga non-muslim disana. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, “Tak perlu menjadi muslim untuk membela palestina, cukup kau jadi manusia!”

Saya pikir Zionisme sebagai paham radikal yang ada dalam tubuh agama Yahudi harus benar-benar dimusnahkan dari muka bumi ini. Lewat teman, saya baru mengetahui bahwa Zionisme pertama kali dideklarasikan oleh Theodore Herzl, seorang wartawan yang akhirnya menjadi Bapak pendiri Israel Raya. Dalam Protocol of Zionisme, seluruh penganutnya dituntut untuk menguasai 12 poin, beberapa diantaranya seperti media, bank, politik, ekonomi dan lobi dunia. Dan mereka telah berhasil memiliki semua itu.

Akibat bentrokan yang terjadi itu Palestina pun kembali mendapatkan perhatian internasional. Bukan sebagai sebuah negara yang benar-benar merdeka, melainkan sebagai sebuah negara, dimana rakyatnya bahkan kesulitan untuk beribadah. Saya pikir inilah penjajahan yang disebut-sebut tidak sesuai dengan prikemanusiaan, dan sekaligus menginjak-injak harga diri muslim dunia! Akibat kebijakan ‘Penghinaan terhadap Islam’ itu Israel dan Palestina pun saling bunuh-membunuh dan tikam-menikam. Sedikitnya ada tiga pihak warga sipil Palestina dan tiga warga Israel yang menjadi korban, sedangkan ratusan lainnya pihak muslim mengalami luka-luka hingga dilarikan ke rumah sakit pasca bentrokan yang tejadi saat demonstrasi berlangsung. Saya yakin korban di pihak Palestina akan terus bertambah, sebab sebagaimana yang sudah-sudah kekejaman dan kekejian Israel dalam menyiksa, menangkap bahkan membunuh terkenal sangat masif. Secara persenjataan pun Israel lebih berada, tampak dari pemberitaan-pemberitaan yang menyebutkan mereka menggunakan granat setrum dan gas air mata untuk membubarkan massa. Berbanding terbalik dengan Palestina yang hanya bermodalkan tekad, keberanian dan sekepal batu di tangan. Allahu akbar!

Kini masyarakat Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya Islam, ikut merasakan kepedihan itu, sekaligus balas budi atas pengakuan Palestina atas kemerdekaan RI dulu, walaupun Palestina adalah sebuah negara yang ‘takkan’ pernah utuh. Hampir di setiap daerah-daerah di Indonesia seperti di Malang, Bandung dan Medan, masyarakatnya turun ke jalan, berdemostrasi, melaknat Israel, meneriaki Save Palestine dan Save Al-Aqsha. Mereka mengecam penutupan akses umat ke Masjidil Aqsha oleh Israel. Dan hanya itu yang bisa mereka lakukan; turun ke jalan, berdemo, dan mendermakan apa yang mereka miliki untuk Palestina tercinta. Sedangkan di tingkat yang lebih tinggi seperti pemerintahan misalnya, mereka pun hanya bisa mengutuki, mengecam dan begitu terus hampir di setiap tahunnya. “Menolak segala bentuk aksi kekerasan dan pelanggaran HAM, termasuk pembunuhan terhadap jemaah yang berupaya menjalankan haknya untuk melakukan ibadah di Masjidil Al-Aqsa. Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera bersidang dan mengambil langkah untuk memberhentikan tindak kekerasan keamanan Israel di Kompleks Masjid Al Aqsa. Indonesia juga mendesak agar OKI dapat segera lakukan pertemuan darurat untuk membahas situasi di kompleks Al Aqsa,” sebut pernyataan Kemenlu RI sebagaimana dikutip dari bbc.com.

Sedangkan di tingkat dunia, dikabarkan DK PBB baru akan bertemu dan membahas situasi yang ada. Itupun berkat adanya desakan dari Swedia, Mesir dan Prancis. Dua diantara pembahasannya seperti membahas pengganti detektor logam tersebut, dan de-eskalasi situasi. Benar-benar tidak menyentuh inti persoalan! Bak lagu Michael Hearts, “While the so-called leaders of countries afar/ Debated on who’s wrong or right//”. Terkadang saya sebagai orang awam berpikir sederhana saja, ‘Mengapa kita sebagai negara-negar muslim dan negara-negara yang peduli dengan nasib kemanusian di Palestina tidak dapat memukul mundur seorang bocah tengik bernama Israel?!’. Ya, mungkin karena ada banyak sekali birokrasi dan pertaruhan ekonomi-politik suatu negara didalamnya.

#SavePalestine #FreeAqsa #SayaIndonesia #SayaBantuAlAqsha #AksiBelaPalestina #IndonesiaBelaAqsha #SaveAlAqsa #PrayForPalestine

Penulis adalah Khairullah Bin Mustafa: dapat di lihat di http://khairullahbinmustafa.blogspot.com/2017/07/konflik-palestina-konflik-kemanusiaan.html?m=1