MEMBANGUN INDONESIA DARI MEDAN

Medan Kota Para “Ketua”
Medan “Kota Para Ketua”, ungkapan ini pasti sering kali di sampaikan masyarakat Medan ataupun mereka yang pernah ke Medan dan merasakan “nikmatnya” hidup di Medan. Ungkapan tersebut tentu bukan tanpa alasan, berdasarkan data dari Kesbanglipol, Medan adalah Kota dengan daftar ormas terbanyak di Indonesia. Semua jenis organisasi di Medan ada, dimulai dari organisasi legal sampai organisasi ilegal, organisasi orang tua sampai organisasi yang katanya “Kepemudaan” walaupun pengurus organisasi tersebut rata – rata sudah berumur di atas 35 tahunan, sampai LSM yang full pemberdayaan hingga LSM yang sangat ahli menghisap darah . Maka wajar medan mendapat julukan “Kota Para Ketua”.
Tetapi walaupun Medan katanya Kota Para Ketua, seharusya medan mampu menjadi daerah gudangnya para pemimpin besar yang siap pakai untuk memajukan masyarakat Medan, tapi hari ini yang terjadi di Medan 180 derajat berbanding terbalik dengan ekspektasi ketika Medan dikatakan sebagai “Kota Para Ketua”. Hari ini Medan di landa krisis kepemimpinan, krisis narkoba dan keamanan , serta krisis perdamaian
Medan “Krisis” Kepemimpinan
Medan dengan predikat “Kota Para Ketua” kini mengalami krisis kepimpinan dalam tingkat akut, walaupun banyak reklame–reklame di kota ini yang memasang wajah para ketua – ketua, tetapi mereka para ketua – ketua tidak mampu menjadi pemimpin yang diharapkan masyarakat Medan, justru masyarakat Medan berulang kali dikecewakan oleh mereka yang katanya para “ketua – ketua” itu. Tepat tahun lalu Indonesia dihebohkan dengan ditangkapnya “ketua – ketua besar” masyarakat medan oleh KPK antara lain yaitu ,Gatot Pujo Nugroho “Sang Gubernur” , Ajib Shah “Sang Ketua DPRD” beserta jajarannya yang takkan mau saya sebutkan disini karena akan membuat essai ini dipenuhi dengan nama–nama pengkhianat rakyat serta karena masalah tersebut itu juga yang menyebabkan terikut pula “Sang Profesor Hukum” yang ketika dia berbicara tentang hukum seolah – olah dialah yang paling memahami dan mengerti tentang hukum, padahal dia tak lebih dari mafia hukum, sebut saja namanya bapak OC Kaligis. Padahal belum hilang luka masyarakat Medan ketika “ketua–ketua besar” sebelumnya juga di tangkap KPK oleh kasus yang tak jauh beda. Sebut saja namanya Samsul Arifin “ Sang Mantan Gubernur” dan Rahudman Harahap “ Sang Mantan Wali Kota”. Lantas dengan kondisi yang begitu bobrok dikalangan elit yang katanya pemimpin – pemimpin kota Medan itu ,kini Medan mengalami krisis kepemimpinan, hari ini masyarakat sudah mulai apatis dan skeptis dengan tokoh – tokoh ada di Medan, karena bagi masyarakat mereka tak lebih bak vampir penghisap darah yang tak pernah puas untuk menghisap darah rakyatnya.
Medan “Krisis Narkoba dan Keamanan”
Tak jauh beda dengan kepemimpinan, Medan saat ini mengalami krisis keamanan pada tingkat akut, Kota Medan menjadi kota yang begitu mencekam di malam hari di sebabkan berkeliarannya para begal – begal yang juga merangkap tukang jagal di jalanan kota Medan, berdasar survei dari lembaga Indonesia Research Center (IRC) pada tahun 2016 tentang keamanan kota – kota di Indonesia , maka Medan menjadi juaranya sebagai Kota yang paling tidak aman di Indonesia dengan tingkat keamanan sebesar 3,2% ,dan diperparah lagi dengan Narkoba yang sudah menjadi jajanan pemuda Medan serta bandarnya yang seenaknya hidup di kota Medan bekerja sama dengan para aparat menjadi biang kerok masalah kepemudaan. Lengkaplah penderitaan masyarakat Medan dengan kondisi daerahnya, padahal Medan yang katanya “Kota Para Ketua” seharusnya merupakan tempat paling aman untuk hidup dan tempat paling terbina anak muda – anak mudanya karena ketua – ketua begitu banyak disini ,tetapi nyata berbanding terbalik. Pertanyaan mendasar sekarang “ apakah begal – begal tersebut tak menghargai wajah ketua mereka yang terpampang di reklame – reklame ? “ cukup begalnya sajalah yang menjawab pertanyaan ini.

Medan “Krisis Perdamaian”
Lengkaplah penderitaan kota ini, sudah lah di landa krisis kepemimpinan dengan badai – badai KKN, di landa krisis keamanan dengan ulah para begal, di tambah lagi dengan krisis perdamaian akibat hilangnya toleransi dan sikap egaliter masyakat Medan, sebut saja kasus baru – baru ini terjadi di Medan, bentrokan antara dua OKP yang katanya “Penguasa Medan” PP dan IPK, bentrokan yang disebabkan hal sepele tersebut membuat Medan menjadi daerah yang sangat mencekam, hampir di setiap sudut Medan terjadi kerusuhan , seolah–olah medan sudah menjadi neraka dunia, atau memang jangan–jangan Medan sudah menjadi neraka dunia karena kepanjangan dari kata Medan bisa jadi M untuk Masuk, E untuk Ke, DA untuk Dalam dan N untuk Neraka, tapi sebenarnya itu hanya kepanjangan yang dipaksakan berkaitan dengan kondisi Medan, walaupun memang seluruh masyarakat Medan mengetahui kepanjangan tesebut . Berkaitan dengan krisis tersebut seharusnya dua organisasi tersebut dapat dibubarkan tetapi mungkin karena mereka adalah “Sang Penguasa” sehingga aparat lemah tak berdaya menghadapi para ketua–ketua besar tersebut.
Membangun Indonesia Dari Medan
Medan pada dasarnya merupakan kota para pemimpin besar, petarung dan pejuang kehidupan., di Medan kita bisa saksikan para ibu – ibu yang bangun subuh buta dan kemudian berkeliling kota Medan mencari sampah–sampah, berupa nasi basi untuk makanan ternak babinya di rumah, yang dari ternak babi tersebutlah para pemuda – pemuda Medan di sekolahkan untuk menjadi pemimpin dan petarung kehidupan elegan yang hari ini duduk di kantor – kantor yang mewah menjadi akademisi, teknokrat ,praktisi, bahkan menteri sebut saja contohnya Bapak Menteri Luhur Binsar Pandjaitan dll.
Medan juga pada dasarnya merupakan kota dengan masyarakat yang sangat cenderung untuk berkerja sama yang ditandai dengan sikap ingin berorganisasi, tapi lantas niat untuk berkerja sama tersebut cenderung tidak dilandasi dengan niat kebaikan , tetapi dilandasi dengan niat ingin membuat diri menjadi jumawa, serta usaha menjadi aman dari pantauan para aparat dan niatan lain–lainnya, sehingga di Medan ini pun kini banyak muncul “sepia-sepia” yang merupakan kepanjangan dari separuh mafia. Hal ini lah yang membuat Medan sekarang jauh dari harapan masyarakat Medan.
Medan dikuasai Mafia ini lah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa kini pembangunan Medan tidak terarah hanya didasari oleh kekuatan – kekuatan para mafia yang berlindung di balik organisasi kepemudaan, pejabat titipan, dan aparat–aparat yang diberi sogokan. Mungkin ketika kita berada di tengah kota Medan kita akan melihat banyak sekali gedung–gedung besar nan menjulang tinggi, tetapi tak jarang di sisi lain daerah tersebut kita akan menemui ada banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan, dan penuh dengan penindasan serta pembodohan, ditindas oleh gaya hidup hedonisme , narkoba, judi dan permainan – permainan yang melalaikan para harapan masyarakat Medan yaitu pemuda – pemuda Medan yang berada dikalangan masyarakat bawah kalau kata “kaum kiri” sebagai kaum proletar.
Maka saat ini pemuda – pemuda Medan harus bangkit dari keterpurukan dan pembodohan oleh generasi sebelumnya, tentang sejarah yang di permainkan. Bangkit berjamaah dan membentuk sebuah wadah yang dipenuhi dengan pemuda–pemuda yang penuh dengan jiwa kebaikan, bukan dengan kumpulan-kumpulan yang mengajak kepada keburukan dengan sampul kebaikan seperti sabda Rasulullah SAW. “ Berteman dengan orang – orang shaleh itu seperti berteman dengan penjual minyak wangi, sedangkan berteman dengan orang – orang jahat itu seperti berteman dengan pandai besi “, ketika kita mendalami lebih dalam makna hadis ini Rasulullah sudah menyampaikan bagaimana sebenarnya cara bergaul dan memilih kumpulan teman/organisasi yang baik. Ketika kita berteman dengan teman–teman yang baik, maka kita seperti berteman dengan penjual minyak wangi, walaupun kita tidak memakai minyak wangi tersebut tapi bagaimanapun kita akan terasa wangi begitulah kita berteman dengan orang–orang baik, bagaimanapun kita, maka ketika kita berdekatan dengan mereka maka hal – hal yang kita lakukan adalah kebaikan, dan berbanding terbalik ketika kita berteman dengan teman–teman yang jahat maka kata Rasulullah SAW kita seperti berteman dengan pandai besi, sebagaimana layaknya berteman dengan pandai bisa, ketika kita dekat dengan pandai besi bagaimana pun kita akan merasakan percikan besi–besi panas, minimal kita terasakan hawa panas, begitulah ketika kita berteman dengan orang jahat, ketika kita tidak melakukan kejahatan tapi kita berteman dengan teman–teman yang jahat maka kita pasti akan merasakan dampak kejahatannya minimal masyarakat akan memandang negatif kepada kita. Seperti itu lah seharusnya pemuda Medan, pemuda Medan harus pandai – pandai memilih teman dan banyak bergabung dengan kumpulan komunitas – komunitas positif agar di masa yang akan datang pemuda–pemuda Medan mampu menjadi manusia seutuhnya yang terus – menerus melakukan kebaikan dan memberikan peran terbaik bagi Medan dan dalam jangkauan yang lebih besar memberikan peran yang terbaik untuk Indonesia karena Medan dan Pemuda Medan lah kunci Indonesia..
Sinergi Keluarga Medan ( SINERGI KEDAN )
Saya selaku pemuda Medan begitu merasakan kondisi Medan yang saat ini jauh dari apa yang diharapkan untuk menjadi Kota Ideal, tetapi walaupun seperti itu bukan sikap yang arif dan bijaksana ketika sebagai pemuda kita hanya mampu mengkritisi, mencekam, lantas ketika kita muak dengannya, kita pergi daerah tersebut. Andai di masa pra kemerdekaan pemuda Indonesia memiliki paradigma seperti itu terhadap penjajah tentulah saat ini nikmat kemerdekaan itu jauh dari mata, tapi justru pemuda waktu itu memberikan sikap yang begitu arif dan bijaksana serta penuh dengan tinta emas perjuangan yaitu Mengkritisi dan Menjadi Solusi.
Pemuda Medan yang hari ini menjadi inisiator Medan dan penentu arah kehidupan Kota Medan harus lah menjadi pemuda yang memiliki karakter terpuji, kuat religi, semangat keras bak baja dan yang paling penting harus dapat bersinergi. Mengapa yang paling penting harus dapat bersinergi? Karena dengan kondisi Medan yang begitu semberawut seperti saat ini maka seorang pemuda yang hanya punya karakter terpuji, kuat religi dan semangat keras saja tidak cukup, Medan butuh banyak pemuda seperti itu dan mereka bersinergi membentuk sebuah Tsunami Perubahan menuju Medan menjadi kota yang mampu melakukan pembangunan berkelanjutan demi Medan yang rumah kita ini menjadi rumah paling nyaman di Indonesia.
Maka untuk merealisasikan itu semua kita butuh sebuah langkah kongkrit dengan membentuk sebuah wadah bergeraknya para pemuda Medan, wadah tersebut adalah Sinergi Keluarga Medan yang disingkat dengan Sinergi KEDAN. Wadah ini merupakan sebuah wadah yang menampung seluruh pemuda Medan yang penuh inspirasi dan pastinya peduli terhadap kondisi medan untuk bersama–sama melakukan sosial movement di Medan. Dalam bentuk kerja–kerja sosial yang menyentuh berbagai lini masyaraka, seperti gerakan pendampingan atau mentor sebaya bagi pemuda – pemuda di lingkungan–lingkungan kelurahan Kota Medan agar pemuda – pemuda mendapatkan teman untuk konsultasi berbagai permasalahan, penyuluhan bahaya, rokok, narkoba, free sex dan pendampingan berkaitan hal tersebut yang diintegrasikan dengan mentor sebaya serta juga pemberdayaan terhadap masyarakat yang termarginalkan secara sosial, seperti anak – anak jalanan, gelandangan, dan orang gila. Semua gerakan perubahan yang menyentuh semua lini ini akan terangkum dalam satu wadah yang akan menjadi sebuah tsunami besar, tsunami para pemuda Medan, Tsunami yang diberi nama Tsunami Sinergi KEDAN yang kelak dengan ini para petinggi negara di pusat sana akan sadar bahwa Ayo Membangun Indonesia dari Medan!!!