PROSES MANUSIA DAN AMAL YANG TOTALITAS

Semangatlah dalam berusaha. Tulisan ini saya awali dengan motivasi kepada kita semua. Motivasi yang wajar, namun kali ini akan kita bahas kedudukan kita sebagai seorang manusia di muka bumi mulai dari penciptaan sampai akhir hayat dan bagaimana seharusnya kita memahami konsep dalam berusaha atau beramal.

Manusia tidak ada yang pernah tahu, apakah Allah swt. menerima amal ibadah kita yang telah dilakukan. Berikut ini sebuah hadis dari Rasulullah saw. untuk menguatkan kepada kita semua agar terus berusaha atau beramal kebajikan.

حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ ” إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلُهَا ”

Artinya:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, dan beliau yang benar dan dipercaya,”sesungguhnya kalian semua akan dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibnnya selama 40 hari berupa nuthfah (sperma), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu juga kemudian menjadi mudhgah (embrio) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh padanya. Lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kalimat: rezekinya, ajalnya, amalnya dan celaka dan bahagianya. Maka demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, ada salah seorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga, sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali tinggal sehasta, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah, lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka. Dan ada salah seorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka, sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta, kemudian ia didahului ketetapan Allah, lalu ia melakukan amalan ahli surga, maka dia pun masuk surga”

 

Hadis ini diriwayatkan al-Bukhari no. 3036 dan pada shahih Muslim no. 2643.

Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari hadis di atas ialah;

  1. Fase perkembangan janin di dalam rahim. Pada penjelesan ini kita telah mengetahui bahwa janin itu diciptakan 120 hari dalam tiga tahapan, setiap tahapan adalah selama 40 hari. 40 hari pertama berupa nuthfah, kedua ‘alaqah dan ketiga Dengan tahapan ini Allah mengajarkan kepada kita untuk bertindak tenang dan tidak tergesa-gesa dalam segala urusan. Begitu juga dengan jiwa, ia akan meraih kesempurnaan dengan cara bertahap sesuai dengan bertahapnya jasad dalam penciptaannya dari satu fase ke fase berikutnya sampai dewasa. Maka, ketika kita melakukan suatu amal atau usaha apapun itu harus mengikuti tahapannya. Sekali lagi, segala urusan haruslah mengikuti dan melewati tahapan proses agar berjalan dengan efektif.
  2. Ilmu Allah swt. sesungguhnya Allah mengetahui keadaan makhluk sebelum penciptaannya. Maka, tidak ada satu keadaan pun berupa iman, taat, kafir, maksiat, bahagia dan celaka kecuali semuanya diketahui oleh Allah dan berdasarkan kehendak-Nya. Ilmu Allah tidak menghalangi kebebasan kita untuk memilih dan meraih apa yang kita inginkan. Hal ini sudah Allah sampaikan di Alquran surah Asy-Syams ayat 7-10.

 

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)

Artinya:

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

 

Jadi, kita diminta dan dibebankan untuk menjadi hamba yang taat dan takwa, karena Allah swt, telah memberikan kepada kita potensi untuk baik dan buruk. Kewajiban kita hanya untuk berbuat yang terbaik semampu dan semaksimalnya. Karena masalah diterima atau tidak amal kita bukanlah menjadi urusan kita melainkan itu semua Allah swt yang menilainya. Sebagaimana dalam surah At-Taubah ayat 105.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya:

dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

 

Sangat jelas bukan kalau kita diperintahkan untuk beramal atau bekerja dengan totalitas. Terakhir, semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang totalitas dalam beramal baik urusan dunia terlebih lagi akhirat. Wallahu a’lam.

 

Sumber bacaan: al Wafi (Syarah Hadits Arbai’in Imam Nawawi).