REFLEKSI KEPEMIMPINAN SUMATERA UTARA MENUJU SUMATERA UTARA MADANI

Aku tidak mau nantinya berdiri di hadapan ALLAH SWT dengan predikat sebagai pemimpin yang telah menyia-nyiakan harta rakyatnya (Umar Ibn Khattab)

Sebuah quotes yang sederhana namun begitu dalam maknanya dari seorang manusia biasa yang saat ini kepemimpinannya begitu diidam-idamkan ditengah gersangnya dunia kepemimpinan khususnya sumatera utara atas pemimpin yang bijaksana, sederhana, tanggung jawab, amanah dan mau dikritik dengan CARA APA SAJA memulai tulisan  ini. Mari perhatikan negeri berbilang suku ini Sumatera Utara, Dimana Kepemimpinan Sumatera Utara dalam waktu beberapa tahun belakangan ini selalu menjadi perhatian serta mendapatkan “prestasi”, dengan bergilirnya masing-masing gubernur Sumatera Utara sebagai peraih penghargaan dengan gelar “Koruptor”, dimulai dari Gubernur yang terkenal wajah “imut” nya yang tersangkut korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Langkat saat masih menjabat sebagai Bupati Langkat, Sumatera Utara pada 1999-2008, dimana ia merugikan negara senilai Rp. 98,7 Miliar dalam penggunaan APBD langkat, sampai dengan Gubernur yang terkenal dengan wajah manis dan gelar ustadznya yang sudah terjangkit korupsi Dana Bansos yang merugikan negara sebesar Rp. 4,034 miliar plus serta penyuapan tiga hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan dan pemberian hadiah kepada mantan Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Patrice Rio Capella serta ditambah hebohnya Istri muda yang tersembunyi. ALHASIL Sumatera Utara menjadi Provinsi dengan kepala daerah terkorup paling banyak di bagian barat Indonesia.

MIRIS BUKAN? Penulis yang merupakan rakyat Sumatera Utara berdarah minang begitu miris melihat realitas kepemimpinan di Sumatera Utara saat ini, dimana bagi para tokoh-tokoh SUMUT atau mungkin “penokoh-penokoh” SUMUT, kepemimpinan dan politik itu merupakan sarana bisnis dan penuh jiwa pragmatisasi berbasis materi. Jika ongkos menuju kursi adalah 10 Miliar maka minimal keuntungan turun dan melepas dari kursi adalah 1 Triliun. Akan sangat jauh ketika kita mengkomparasikan kepemimpinan saat ini dengan kepemimpinan sekaliber Umar bin Khattab seperti dasar bumi paling dalam dan puncak langit paling tinggi. Dan tak terasa SUMUT kembali akan menghelat pertarungan para hipokrit di 2018, para hipokrit tersebut sudah mulai memanaskan mesin politik dan curi-curi start kampanye apalagi yang saat ini berada dalam kursi kekuasaan baik eksekutif, legislatif, yudikatif bahkan aparat tentang dan polisi, dimana berbagai program dipolitisasi menjadi ajang kampanye tersembunyi, seolah-olah kekuasaan itu diinginkan untuk menjadi abadi. Amboy entah apa Ilah mereka ini? Entah bagaimana ketika mereka dihadapkan di Mahkamah pengadilan ALLAH SWT yang sedikitpun tak ada yang mampu tersembunyi?

Melihat realitas SUMUT seperti itu, sudah saat nya seluruh elemen yang cinta akan SUMUT untuk melakukan langkah-langkah revolusi yang dimulai dari “Muhasabah dan Taubat Nasuha Kepemimpinan”, kepemimpinan yang dimaksud disini adalah kepemimpinan yang Universal, bukan hanya mereka yang berada pada jabatan elite pemerintahan namun juga dalam tataran grass road yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan gang, dan yang lebih besar yaitu kelurahan. Kita harus mengorientasikan kembali paradigma kepemimpinan itu seperti apa, apakah kepemimpinan itu hanya merupakan ladang mengeruk keuntungan atau merupakan ladang ibadah dalam rangka pengabdian, karena dengan meletakkan orientasi kepemimpinan yang jelas sebagai rangka pengabdian maka kita sudah melakukan satu langkah besar bagi perbagikan SUMUT tercinta ini.

Setelah kita Muhasabah, maka satu langkah setelah itu yaitu TAUBAT NASUHA!!! Seluruh elemen SUMUT harus taubat nasuha menyesali segala materialisme dan pragmatisme yang sering dilakukan, menggadaikan bai’at dan nasib SUMUT di masa depan hanya dengan uang dan jabatan dunia yang tak seberapa padahal kelak mereka akan ditanya oleh yang Maha Menyaksikan bahwa untuk siapa bai’at mereka berikan, untuk pemimpin yang melayani atau mafia berdasi. Karena melihat dari konstalasi SUMUT saat ini, konstalasi yang terbentuk masih diisi oleh tokoh-tokoh yang kebanyakan tokoh-tokoh “kadaluarsa” dan memiliki “dosa” yang membahayakan. Ada incumbant yang masih betah mempolitisasi kekuasaan, ada jenderal yang sibuk berbicara SUMUT bermartabat namun dengan cukong berkerabat erat, ada bekas GUBSU yang bermuka tembok, ada mafia tanah yang diam-diam ingin rebut kuasa dan lain-lain hal lagi. Maka langkah kulminasi pasca TAUBAT NASUHA adalah berhenti memilih  mereka yang TIDAK JELAS sebagai pemimpin SUMUT. Kita harus membangun langkah bersama untuk mendukung  dan menaikan calon alternatif yang terbaik dari perpektif syariah dan kepemimpinan sebelum kita masuk kedalam jebakan batman para politisi yang berbicara Islam namun hatinya yahudi, berbicara Islam ketika bertendensi kekuasaan, dan menjauhkan Islam ketika sudah berada pada posisi kekuasaan.

Semoga kelak rakyat SUMUT mendapatkan pemimpin yang mampu memimpin SUMUT secara kaffah, pemimpin yang ketika ada rakyat berkata kepadanya sambil menghunus pedang “Aku akan meluruskanmu jika tak menjalankan syariat Islam bahkan dengan pedang ini” dan pemimpin tersebut justru merangkul rakyat yang berkata tersebut dan mencium tangannya bukan seperti pemimpin hari ini ketika menerima kritikan dan ditelanjangi keburukannya baik dari individu atau or\mas langsung melakukan tindakan represif berdampak kriminalisasi sampai-sampai mengeluarkan PERPPU untuk mengkebiri ormas-ormas yang mengkritisi. Semoga kita juga mendapatkan pemimpin yang berkata dan selalu berusaha “bahwa semua makhluk yang berada dibawah wilayah kepemimpinanku menjadi tanggung jawabku kepada ALLAH SWT” bukan seperti pemimpin dimana ketika hutang negaranya semakin tinggi justru berkata “Saya tidak tahu kemana larinya hutang negara”. Semoga kelak kita mendapatkan pemimpin seperti itu, pemimpin yang mampu merevolusi segala kerusakan-kerusakan di SUMUT yang terjadi saat ini menjadi kumpulan-kumpulan gunung-gunung kebaikan melalu MUHASABAH DAN TAUBAT NASUHA KEPEMIMPINAN, untuk Mari kita bersama bergandengan tangan membentuk SUMATERA UTARA MADANI.

~Penulis adalah ketua DKP-KAMMI Medan (Hafiz Al-Hijr Chaniago)