TAFSIR EPISTIMOLOGI PRINSIP GERAKAN KAMMI

Oleh: M. Hafizh Alhijri Chaniago S.Si
Ketua DKP KAMMI Medan
Alumni DM3 KAMMI SUMBAR

KAMMI merupakan sebuah gerakan mahasiswa yang memiliki prinsip-prinsip gerakan yang akan senantiasa selalu dijunjung tinggi dan diperjuangkan, maka tafsir prinsip gerakan tersebut harus terus membumi dan mampu diterima semua lini, prinsip gerakan yang merupakan sistematika ideologi harus betul-betul tersampaikan demi tercapainya tujuan besar KAMMI yang termaktub dalam visi besar gerakan besar gerakan KAMMI. Dimana KAMMI juga memiliki keyakinan seperti yang ALLAH maktubkan dalam firman tersebut:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al A’raf: 96)
Berikut rumusan dari tafsir epistimologi prinsip gerakan KAMMI dalam perspektif saya selaku penulis.

1. Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI
2. Kebatilan adalah musuh Abadi KAMMI
3. Solusi Islam adalah Tawaran Perjuangan KAMMI
4. Perbaikan adalah Tradisi Perjuangan KAMMI
5. Kepemimpinan Umat adalah Strategi Perjuangan KAMMI
6. Persaudaraan adalah Watak Mu’amalah KAMMI

Epistemologi gerakan adalah pikiran-pikiran dasar yang membangun nilai dan sistem kebenaran gerakannya. Kerangka epistemik ini menjadi landasan utama menjelaskan sesuatu yang yang mendorong KAMMI untuk diam, bersikap, dan bertindak. Dalam konteks gerakan, sesuatu yang melandasi pikiran-pikiran dasar itu disebut dengan ideologi. KAMMI dalam perkembangan sejarahnya telah mengalami perubahan pengistilahan apakah keenam prinsip gerakan itu ideologi gerakan ataukah prinsip gerakan. Rapat Kerja Nasional Departemen Kaderisasi di Parung Bogor tanggal 9-15 Agustus 1999, menyebut rumusan keenam prinsip/ideologi itu sebagai ideologi gerakan, sedangkan di Muktamar III di Lampung tahun 2002 diganti menjadi prinsip gerakan. Terlepas dari mana yang tepat di antara keduanya, yang jelas kedua-duanya dapat disebut ideologi sekaligus prinsip gerakan.
Menurut Paul Ricoer ideologi adalah satu sistem penjelasan terhadap eksistensi satu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan. Jika mengikuti pengertian yang diberikan Ricoermengenai ideologi, akan nampak enam rumusan prinsip gerakan tersebut dapat dikategorikan sebagai ideologi gerakan yang sudah sistematis dan dapat menjadi alat penjelas KAMMI sebagai kelompok sosial tertentu dengan cita-cita dan ciri kekhasannya. Tetapi jika pengertian ideologi yang dimaksud itu mengacu pada kerangka umum yang didefinisikan Microsoft Encarta Encylopedia (2003) sebagai suatu sistem kepercayaan yang memuat nilai-nilai dan ide-ide yang diorganisasi secara rapi sebagai basis filsafat, sains, program sosial ekonomi politik yang menjadi pandangan hidup, aturan berpikir, merasa, dan bertindak individu atau kelompok, akan didapati makna yang lebih luas, tidak sekedar ideologi melainkan juga prinsip dan sistem kehidupannya.
Gerakan mahasiswa dalam perjuangannya membutuhkan alat penjelas yang menempatkan posisi dan sikapnya dalam realitas politik tertentu. Dan ideologi dapat membantu memberikan interpretasi terhadap satu peristiwa politik. Sebenarnya rumusan ideologi KAMMI yang sudah dirumuskan dalam Rapat Kerja Nasional Departemen Kaderisasi tahun 1999 itu merupakan rumusan sistematis dan aras utama yang membentuk karakter dan kultur gerakan KAMMI yang sejak awal mula didirikannya. Memang jika merujuk pada beberapa definisi yang ditawarkan beberapa kamus, terdapat perbedaan tipis antara prinsip dan ideologi. Prinsip adalah asas, pokok, penting, fundamen, dan aturan hidup. Sedangkan ideologi dipakai untuk menunjukkan kelompok ide-ide yang teratur menangani bermacam-macam masalah politik, ekonomi dan sosial; asas haluan dan pandangan hidup. Namun jika mengamati arus besar perubahan sosial di dunia ini, mereka digerakan oleh ideologi-ideologi dunia. Pada kenyataannya, prinsip itulah turunan dari ideologi tersebut.
Berangkat dari pemikiran di atas, sebagai sebuah bangunan epistemologi gerakan, rumusan prinsip gerakan tersebut nampaknya perlu diangkat kembali menjadi ideologi KAMMI. Gagasan ini bukan berangkat dari pengertian kaum materialis—yang diwakili Destutt de Tracy sebagai pemikir Perancis yang pertama kali menggunakan istilah ideologi dalam bukunya Elements d’ideologie (1827) yang hidup semasa Napoleon Bonaparte—terhadap ideologi. Ideologi diposisikan vis a vis dengan gagasan teologis. De Tracy yang berkarakter positivistik meyakini ideologi sebagai kebenaran di luar otoritas agama.
KAMMI meyakini Islam sebagai segalanya, maka ideologinya tidaklah sekuralistik positivistik keduniawian. Seorang aktivis Islam tidak sekedar memiliki visi kekini-di-sinian, melainkan kekini-di-sinian dan pertanggungjawaban transendental. Dengan bahasa lain seorang muslim tidak memandang realitas kehidupan hanya dalam perspektif hic et nunc (here and now) yang bersifat profan, tetapi dalam visi hic et posthac (here and afterday) yang bersifat profan sekaligus sacred. Oleh karena itu seorang muslim dalam memandang realitas kehidupan tidak cukup akurat jika hanya berdasarkan fenomena sosial politik masyarakat, tetapi memerlukan juga realitas ajaran Islam yang menjadi anutannya. Maka ideologi KAMMI adalah turunan dari aqidah Islam dan ideologi adalah rumusan sistematis yang dirancang sebagai pilihan gerakan dalam mencapai tujuan besar Islam dalam kehidupan sosial politik umat manusia.
Mengutip pendapat Andi Rahmat, kehendak untuk menempatkan diri secara signifikan dalam setiap peristiwa politik dalam kerangka perubahan menunjukkan kebutuhan yang mendasar terhadap satu ideologi politik yang kuat. Bagi mahasiswa, ideologi tidak hanya sekedar berfungsi untuk memperkuatidentitas dan aksi-aksi politiknya, akan tetapi juga berfungsi untuk memberibentuk terhadap identitas dan aksi-aksi politik tersebut. Sebaliknya pengabaian terhadap keberadaan ideologi politik bagi mahasiswa menempatkannya pada posisi serba salah dan mudah sekali terjebak dalam perilaku-perilaku pragmatis dan tidak konsisten.
Tabel di bawah ini dapat membantu penjelasan ideologi gerakan dalam bangunan dakwah, kerangka epistemologi, dan sistematika gerakannya.

Kerangka Dakwah Kerangka Epistemik Prinsip Gerakan Sistematika Gerakan
Mabda’ Worldview Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI Pandangan Hidup KAMMI
Kebatilan adalah musuh Abadi KAMMI
Fikrah Paradigma Solusi Islam adalah Tawaran Perjuangan KAMMI Framework dan Konsepsi Tawaran Perubahan KAMMI
Manhaj Metodologi Perbaikan adalah Tradisi Perjuangan KAMM Pilihan Isu strategis dan Sikap Gerakan KAMMI
Kepemimpinan Umat adalah Strategi Perjuangan KAMMI

Persaudaraan adalah Watak Mu’amalah KAMMI

 

Pengkategorian ini dilakukan untuk mempermudah memahami penjelasan kerangka bangun integralitas ideologi gerakan dan metodologi gerakannya. Mabda’ adalah dasar atau asas-asas yang menjadi landasan rasionalitas dan semangat perjuangan KAMMI. Fikrah adalah cita-cita dan tawaran pemikiran yang diajukan KAMMI dalam upaya perbaikan. Sedangkan manhaj adalah pilihan metode dalam upaya pencapaian cita-cita yang sudah digariskan. Dengan demikian ideologi KAMMI secara komprehensif mencakup worldview (pandangan hidup), paradigma (kerangka berpikir), dan metodologi menjalankan gerakannya.
Secara singkat dapat dinyatakan, bahwa pandangan hidup KAMMI adalah memenangkan nilai-nilai Islam dan menggagalkan nilai-nilai yang merusaknya. KAMMI dalam perjuangannya tidak menawarkan paradigma liberal, melainkan paradigma Islam yang syamil mutakamil (universal dan integral). Dalam menjalankan roda gerakannya pun KAMMI lebih mengutamakan perbaikan daripada anarkisme, kepemimpinan dan keterlibatan di berbagai hal bukan acuh terhadap problematika, dan membangun persaudaraan yang dapat menciptakan kesadaran bersama demi hadirnya kebaikan bersama (rahmatan lil’alamin).
Untuk lebih mengkomperehensifkan pembahasan tersebut, maka tafsir epistimologi ini akan lebih merincikan bagaimana tafsir-tafsir perpoint mengapa prinsip gerakan itu harus ada dan untuk apa ada.
1. Kemenangan Islam Adalah Jiwa Perjuangan KAMMI.
Tafsir point pertama ini secara garis besar menunjukkan paradigma gerakan KAMMI yang utama, dimana KAMMI meyakini bahwa kemenangan Islam itu adalah sesuatu yang nyata bukan hal yang utopis. Keyakinan itu tentu bukan berdasarkan doktrin semata namun juga fakta sosio-historis, dimana dalam buku The Third Wave : Clash Of Civilition Samuel Huntington, menjelaskan tentang akan adanya sebuah kekuatan baru yang meruntuhkan kapitalisme global. Dan kekuatan itu bukanlah komunisme namun sebuah agama dan ideologi yang telah terbukti memberi keadilan secara paripurna yaitu Islam.
2. Kebatilan Adalah Musuh Abadi KAMMI.
Tafsir kedua ini menggariskan secara tegas KAMMI itu berada pada posisi apa, dan musuhnya siapa. KAMMI sebagai sebuah gerakan tidak membataskan diri dalam berhadapan dengan musuh yang sebatas simbol atau nama-nama namun KAMMI memandang tegas bahwa KEBATILAN adalah musuh abadi KAMMI. Sehingga siapapun yang membawa visi dan kerja kebatilan maka merekalah musuh abadi KAMMI.

3. Solusi Islam Adalah Tawaran Perjuangan KAMMI.
Tafsir ketiga ini menunjukkan bahwa Islam merupakan nilai-nilai yang akan selalu KAMMI junjung, tentu Islam disini yaitu Islam yang kamil wa mutakammil, bukan Islam yang berjiwa sekuleristik ataupun nilai-nilai yang hanya sebatas bernuansa positivisme.
4. Perbaikan Adalah Tradisi Perjuangan KAMMI.

KAMMI sebagai sebuah gerakan akan selalu menjunjung nilai-nilai perbaikan sebagai sebuah tradisi, karena KAMMI meyakini bahwa harus selalu ada perbaikan-perbaikan.

5. Kepemimpinan Umat Adalah Strategi Perjuangan KAMMI.
Tafsir kelima ini menunjukkan sebagai metologi KAMMI dalam merealisasikan tujuan besarnya. Dimana Kepemimpinan Umat menjadi salah satu strategi dan strategi utama perjuangan KAMMI.

6. Persaudaraan Adalah Watak Muamalah KAMMI.
Tafsir keenam ini menjelaskan juga salah satu metodologi menuju kemenangan KAMMI yaitu persaudaraan, sesuai dengan yang disampaikan Hasan Al Banna, buah Iman adalah Persatuan dan buah persatuan adalah kemenangan.