Zoya : Dimanakah Negara Hukum Itu?

by : M. Hafizh Alhijri Chaniago(Ketua Departemen Kebijakan Publik KAMMI MEDAN)           

Akhir-akhir ini publik Indonesia dikejutkan dengan adanya tindakan main hakim sendiri terhadap Muhammad Al Zahra alias Zoya, tidak tanggung-tanggung, Zoya bukan hanya dipukuli namun juga dibakar hidup-hidup hanya karena tuduhan mencuri amplifier Mushalla Al Hidayah, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, ketika beliau menemui Tuhannya ditengah beban kehidupan yang dideritanya. Ironi bukan? Seorang yang berdoa kepada Tuhannya dengan sejuta harapan agar dapat selamat di dunia yang penuh dengan kepalsuan dan akhirat yang penuh dengan ketidakpastian, justru ketika selesai berdoa orang tersebut dicabut nyawanya oleh Tuhan, bukan dengan cara yang indah seperti dipelukan orang tersayang atau mati di medan perjuangan. Namun mati ditangan-tangan nista rakyat yang tak mampu menghakimi sendiri koruptor BLBI namun hanya mampu menghakimi seorang yang belum terbukti. Alangkah lucunya negeri ini!!!

            Melihat realitas masyarakat seperti itu, kemanakah arah telunjuk ini menuntut perbaikan? Apakah ke aparat yang kini sebenarnya tak jauh beda dengan lintah darat? Kepada presiden yang tak lebih dari pameran utama dagelan penindasan? Kepada penghuni gedung DPR yang isinya justru mereka yang hanya tau melacurkan diri demi kekuasaan politik? Atau kepada mereka yang tangan-tangan kejinya menewaskan seorang bapak muda yang sedang berjuang demi nasib buah hatinya? mungkin halaman microsoft word tempat ku merangkai kata ini takkan habisnya membicarakan rusaknya tatanan Indonesia yang katanya negeri surga.

            Mencoba melihat arif dan bijaksana terhadap problematika Zoya ketika yang lain mulai melebarkan wacana sehingga tak menemukan solusi terhadap problematika, terlepas Zoya bersalah atau tidak, namun kasus Zoya menunjukkan bahwa hukum di negeri hukum ini sudah diperkosa, hukum hanya tinggal mantra-mantra tak berguna di atas kertas, teori hukum menjadi teori yang penuh kepalsuan dan kebualan, institusi penegak hukum seperti institusi POLRI tak lebih dianggap sebagai kumpulan manusia berseragam yang tak tahu tupoksi, KEJAKSAAN hanya menjadi tempat berkumpulnya para ahli “Sandra”, dan KEHAKIMAN tak lebih tempat menyuap untuk cari aman, dimana kah idealisme yang diperjuangkan ketika duduk di bangku kuliahan? Realitas tersebut lah yang saat ini membuat MASYARAKAT SUDAH TAK PERCAYA LAGI DENGAN HUKUM. Walaupun sinetron-sinetron ketika ada adegan maling ditangkap lalu datang kepala desa ingin menenangkan suasana dan dia berhasil menenangkan suasana rakyatnya dengan mantra “negara ini adalah negara hukum”, namun berbeda realita di negeri Indonesia, ketika ada yang mengatakan kepada para pemukul Zoya “Negeri ini adalah Negeri Hukum”, maka yang lain justru bersorak sambil menyiramkan bensin “Bakar!!! Bakar!!! Bakar!!!”.

            Alangkah lucunya negeri ini!!! Negeri yang dibangun oleh founding parents bukan dengan teriakan Bakar!!! Bakar!!! Bakar!!! Namun dengan teriakan ALLAHU AKBAR!!! MERDEKA!!! Negeri ini seolah-olah dinistakan oleh anak-anak Ibu Pertiwi. Dahulu negeri ini dibangun dibawah harmoni dan kolaborasi namun kini negeri ini seolah-olah di makan sendiri oleh mereka yang berkata dan terus mempropagandakan “Aku Pancasila” dan “Aku Cinta NKRI”, namun disisi lain kumpulan mereka lah yang merusak tatanan kebaikan di negeri ini. Mereka berkata Aku Pancasila namun Ketuhanan yang maha esa tak menjiwai falsafah bernegara. Mereka berkata Aku Pancasila, namun nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab diperkosa, menjadi biang keladi atas segala kriminalisasi para ulama yang menjaga NKRI. Mereka berkata Aku Pancasila, namun persatuan Indonesia hanya menjadi baju pelindung ketika ingin menguasai negara, Mereka berkata kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam pemusyaratan perwakilan namun electoral treeshold 20% disahkan dan melegitimasi kekuasan monopolistik penguasa, dan mereka berkata keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, namun mereka yang menjadi pelindung orang-orang yang menguasai tanah Indonesia sampai berjuta hektar, melancarkan privatisasi BUMN, menjaga ekploitasi perusahaan asing di Indonesia agar selalu langgeng agar mereka dapat terus menjadi penjilat demi mendapatkan materi tanpa susah-susah memeras keringat dan air mata. Padahal kalau lah benar seandainya Zoya mencuri amplifier maka faktor utamanya adalah MEREKA. Dosa para manusia nista yang memukul maling-maling kelas teri itu akan terus terakumulasi kepada mereka para elitis dan borjuis negara yang najis, walaupun mereka merasa bahwa sedekah dan infak mereka cukup menutup dosa-dosa mereka, namun Tuhan yang maha kuasa tidak akan pernah lupa dan salah dalam menghitung segala tindak-tanduk hambanya.

            Maka menjelang 17 Agustusn 2017 tepat di momentum kemerdekaan Indonesia yang ke 72 sudahkah kita merekonstruksi dan merayakan kembali semangat kemerdekaan secara hakiki? Atau jangan-jangan perayaan kita hanya sebatas upacara yang hanya mendapat letih-letih sekedar menjalankan tradisi tanpa penghayatan nurani, atau jangan-jangan perayaan kita hanya sekedar lomba-lomba pelipur lara yang secara subtansi sebenarnya membuat kita kembali mengingat kitalah kaum terjajah, atau jangan-jangan perayaan kemerdekaan kita hanya sekedar bersenang ria bersama dengan biduan nan sexi serta cantik jelita bahkan diimpor dari Korea? Apakah hanya sebatas itu kah perayaan kemerdekaan kita di negeri yang dibangun dengan tinta para intelektual dan merah darahnya para pejuang? Jika hanya sebatas itu kita memaknai kemerdekaan maka wajar berbagai kegagalan project kemerdekaan terjadi. Kerusakan terjadi diberbagai dimensi kehidupan bernegara, politik, sosbudham, sains, keagamaan dan yang paling penting adalah hukum, maka pertanyaan terbesarnya sekarang apakah 72 tahun dirgahayu, masih kah hukum diperkosa di negeri ini? Jika hukum saja sudah diperkosa konon lagi wanita-wanita bangsa!!!. Hidup Wanita Indonesia!!!